MAKALAH
Disusun
guna memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu
kesehatan masyarakat yang diampu oleh Bp.Rokhani .SKM
Disusun
oleh:
Agus
sulistio
(SK.210.005)
PROGAM
STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
2010/2011
BAB
I
Pendahuluan
Limbah
adalah masalah yamg berhubungan erat dengan kesehatan lingkungan terutama
masalah kesehatan masyarakat masalah tersebut akan di kurangi atau di
eliminasi apabila factor penyebab
masalah tersebut dikurangi derajat kandungannya
dijauhkan, atau dipisahkan dari kontak dengan manusia. Sebagai contoh
limbah cair berbahaya dari suatu sumber, baru boleh dibuang ke lingkungan
setelah melalui proses pengolahan yang dapat menekan kandungan bahan
pencemarannya sampai tingkatan tertentu yang sesuai dengan baku mutu limbah
cair.[1]
Berbagai
dampak negative pada kehidupan manusia dan lingkungan yang dapat ditimbulkan
oleh limbah,disadari atau tidak telah mendorong tumbuh dan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan untuk penanganan suatu limbah secara sanitaser. Hal ini berarti
penanganan limbah dilakukan dengan tekhnik dan prosedur yang sesuai dengan
kaidah-kaidah ilmu sanitasi dan kesehatan lingkungan. Penerapan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi penanganan limbah diharapkan dapat mengurangi
semaksimal mungkin dampak negative dari limbah.[1]
BAB
II
Latar
belakang
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari
suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana
masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada
sampah, ada air kakus (black
water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey
water).[1]
Limbah
yang dikeluarkan dari setiap kegiatan akan memiliki karakteristik yang berlainan.
Hal ini karena bahan baku, teknologi proses, dan peralatan yang digunakan juga
berbeda. Namun akan tetap ada kemiripan karakteristik diantara limbah yang
dihasilkan dari proses untuk menghasilkan produk yang sama.[2]
Karakteristik utama limbah didasarkan pada jumlah atau volume limbah dan kandungan bahan pencemarnya yang terdiri dari unsur fisik, biologi, kimia dan radioaktif. Karakteristik ini akan menjadi dasar untuk menentukan proses dan alat yang digunakan untuk mengolah air limbah.[1]
Karakteristik utama limbah didasarkan pada jumlah atau volume limbah dan kandungan bahan pencemarnya yang terdiri dari unsur fisik, biologi, kimia dan radioaktif. Karakteristik ini akan menjadi dasar untuk menentukan proses dan alat yang digunakan untuk mengolah air limbah.[1]
Masalah
lingkungan dan kesehatan masyarakat timbul diberbagai daerah, karena limbah
yang tidak ditangani secara semestinya, diberbagai tempat terjadi pencemaran
yang berakibat fatal bagi kesehatan masyarakat.[2]
BAB
III
Pembahasan
CIRI-CIRI
LIMBAH
- Berukuran mikro
- Dinamis
- Berdampak luas (penyebarannya)
- Berdampak jangka panjang (antar generasi) [1]
Berdasarkan
karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu :
- Limbah cair
- Limbah padat
- Limbah gas dan partikel
- Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) [2]
Limbah cair
Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau
kegiatan yang berwujud cair (PP 82 thn 2001). Jenis-jenis limbah cair dapat
digolongkan berdasarkan pada :
a. Sifat Fisika dan Sifat Agregat . Keasaman sebagai salah satu contoh sifat limbah dapat diukur dengan menggunakan metoda Titrimetrik
b. ParameterLogam, contohnya Arsenik (As) dengan metoda SSA
c. Anorganik non Metalik contohnya Amonia (NH3-N) dengan metoda Biru Indofenol
d. Organik Agregat contohnya Biological Oxygen Demand (BOD)
e. Mikroorganisme contohnya E Coli dengan metoda MPN
f. Sifat Khusus contohnya Asam Borat (H3 BO3) dengan metoda Titrimetrik
g. Air Laut contohnya Tembaga (Cu) dengan metoda SPR-IDA-SSA [3]
Limbah
padat
Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik.
Limbah domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga, limbah padat
kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan, pertanian serta dari
tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat: kertas, kayu, kain, karet/kulit
tiruan, plastik, metal, gelas/kaca, organik, bakteri, kulit telur,dll dan dapat
dibedakan menjadi 6 :
- garbage (sisa makanan yang tidak mudah busuk)
- rubbish (sisa makanan yang mudah busuk)
- ashes (sisa pembakaran)
- dead animal (sisa tubuh / atau bangkai binaang)
- street sweeping (sampah jalanan)
- industrial waste (sampah pabrik)
[4]
Limbah gas dan partikel
Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh
berberapa partikulat zat (limbah) yang mengandung partikel (asap dan jelaga),
hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut fotokimiawi),
karbon monoksida dan timah. [7]
Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila
mengandung bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik
langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup
atau membahayakan kesehatan manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah
bahan baku yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena rusak,
sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal yang memerlukan
penanganan dan pengolahan khusus. Bahan-bahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki
salah satu atau lebih karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar,
bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan
lain-lain, yang bila diuji dengan toksikologi
dapat diketahui termasuk limbah B3.[7]
Berdasarkan
sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:
- Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap
- Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi
- Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut
- Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.[5]
Macam
Limbah Beracun
- Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
- Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama.
- Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena melepaskan atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu tinggi.
- Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
- Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang terkena infeksi.
- Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa.[8]
Sesuai
dengan kriteria yang tercantum dalam peraturan pemerintah No.18 Tahun 1999
tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, limbah B3 terbagi atas
dua macam yaitu yang spesifik dan yang tidak spesifik.
Perbedaan pokok antara limbah B3 spesifik dan tidak spesifik terletak pada cara penggolongannya. Pada limbah spesifik digolongkan kedalam jenis industri, sumber pencemaran, asal limbah, dan pencemaran utama sedangkan pada limbah tidak spesifik penggolongannya atas dasar kategori dan bahan pencemararan yang biasanya terjadi pada perindustrian (limbah industri)[6]
Perbedaan pokok antara limbah B3 spesifik dan tidak spesifik terletak pada cara penggolongannya. Pada limbah spesifik digolongkan kedalam jenis industri, sumber pencemaran, asal limbah, dan pencemaran utama sedangkan pada limbah tidak spesifik penggolongannya atas dasar kategori dan bahan pencemararan yang biasanya terjadi pada perindustrian (limbah industri)[6]
Limbah
Industri
Berdasarkan
karakteristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi empat bagian
- Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan bahan buangan anorganik.
- Limbah padat
- Limbah gas dan partikel[6]
Proses
Pencemaran Udara Semua spesies kimia yang dimasukkan atau masuk ke atmosfer
yang “bersih” disebut kontaminan. Kontaminan pada konsentrasi yang cukup tinggi
dapat mengakibatkan efek negatif terhadap penerima (receptor), bila ini
terjadi, kontaminan disebat cemaran (pollutant).Cemaran udara diklasifihasikan
menjadi 2 kategori menurut cara cemaran masuk atau dimasukkan ke atmosfer
yaitu: cemaran primer dan cemaran sekunder. Cemaran primer adalah cemaran yang
diemisikan secara langsung dari sumber cemaran. Cemaran sekunder adalah cemaran
yang terbentuk oleh proses kimia di atmosfer.[5]
Sumber
cemaran dari aktivitas manusia (antropogenik) adalah setiap kendaraan bermotor,
fasilitas, pabrik, instalasi atau aktivitas yang mengemisikan cemaran udara
primer ke atmosfer. Ada 2 kategori sumber antropogenik yaitu: sumber tetap
(stationery source) seperti: pembangkit energi listrik dengan bakar fosil,
pabrik, rumah tangga,jasa, dan lain-lain dan sumber bergerak (mobile source)
seperti: truk,bus, pesawat terbang, dan kereta api.[7]
Lima
cemaran primer yang secara total memberikan sumbangan lebih dari 90% pencemaran
udara global adalah: a. Karbon monoksida (CO), b. Nitrogen oksida (Nox), c.
Hidrokarbon (HC), d. Sulfur oksida (SOx) e. Partikulat[6]
Selain
cemaran primer terdapat cemaran sekunder yaitu cemaran yang memberikan dampak
sekunder terhadap komponen lingkungan ataupun cemaran yang dihasilkan akibat
transformasi cemaran primer menjadi bentuk cemaran yang berbeda. Ada beberapa
cemaran sekunder yang dapat mengakibatkan dampak penting baik lokal,regional
maupun global yaitu: a. CO2 (karbon monoksida), b. Cemaran asbut (asap kabut)
atau smog (smoke fog), c. Hujan asam d. CFC (Chloro-Fluoro-Carbon/Freon), e.
CH4 (metana).[6]
Berikut
ini adalah zat kimia yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan apabila terdapat
dalam air minum yang dikonsumsi:
Unsur/Senyawa
|
Pengaruh Pada Kesehatan Manusia
|
Cadmium (Cd)
|
Menyebabkan kerusakan ginjal
apabila konsentrasi Cd pada kulit ginjal mencapai 20 gram/ gram berat badan
|
Timah hitam (Pb)
|
Menimbulkan keracunan paa dyaraf,
pada anak-anak dapat menyebabkan kerusakan jaringan syaraf otak, anemia,
kelumpuhan, apabila kandungan Pb dalam air minum lebih besar dari 0,1 mg/l
|
Mercury (Hg)
|
Menimbulkan penyakit minamata
(saraf) bila kandungan Hg dalam air lebih dari 0,001 mg/l. Dalam bentuk metil
merkuri akan meracuni sel-sel tubuh, merusak ginjal, hati, dan syaraf,
menyebabkan keterbelakangan mental dan cerebral palcy pada bayi.
|
Chrom (Cr)
|
Menyebabkan kanker pada kulit dan
alat pernafasan bila kandungan Cr dalam air lebih dari 0,005 mg/l.
|
Cobalt (Co)
|
Dapat merusak sel tubuh.
|
Cyanida (CN)
|
Dapat mengganggu jaringan tubuh
sehingga tidak mampu mengubah oksigen.
|
Hydrocarbon(HC)
|
Bersifat karsinogenik bagi manusia
|
Arsen (As)
|
Bersifat karsinognik dan dapat
menyerang sistem pencernaan, pernafasan, saraf, hati, kulit, dan darah. Jika
kandunga As dalam air lebih dari 0,005 mg/l akan menjadi racun.
|
Tembaga (Cu)
|
Dapat menyebabkan kerusakan pada
hati bila kandungan Cu dalam air lebih dari 1,5 mg/l.
|
Barium (Ba)
|
Daapat mengakibatkan gangguan
syaraf, efek hati, saluran darah, menimbulkan rasa mual, diare, dan gangguan
saluran pencernaan jika kandungan Ba dalam limbah cair lebih besar 1 mg/l.
|
Argentum (Ag)
|
Dapat menyebabkan gangguan pada
mata dengan terjadinya endapan pada kulit mata dan mucous membran apabila
kandungan Ag dalam air lebih besar dari 0,05 mg/l.
|
[4]
Pengelolaan limbah adalah kegiatan
terpadu yang meliputi kegiatan pengurangan (minimization), segregasi
(segregation), penanganan (handling), pemanfaatan dan pengolahan limbah. Dengan
demikian untuk mencapai hasil yang optimal, kegiatan-kegiatan yang melingkupi
pengelolaan limbah perlu dilakukan dan bukan hanya mengandalkan kegiatan
pengolahan limbah saja. Bila pengelolaan limbah hanya diarahkan pada kegiatan
pengolahan limbah maka beban kegiatan di Instalasi Pengolahan Air Limbah akan
sangat berat, membutuhkan lahan yang lebih luas, peralatan lebih banyak,
teknologi dan biaya yang tinggi. Kegiatan pendahuluan pada pengelolaan limbah
(pengurangan, segregasi dan penanganan limbah) akan sangat
Tren pengelolaan limbah di industri adalah menjalankan secara terintergrasi kegiatan pengurangan, segregasi dan handling limbah sehingga menekan biaya dan menghasilkan output limbah yang lebih sedikit serta minim tingkat pencemarnya. Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai konsep seperti: produksi bersih (cleaner production), atau minimasi limbah (waste minimization).[3]
Secara prinsip, konsep produksi bersih dan minimasi limbah mengupayakan dihasilkannya jumlah limbah yang sedikit dan tingkat cemaran yang minimum. Namun, terdapat beberapa penekanan yang berbeda dari kedua konsep tersebut yaitu: produksi bersih memulai implementasi dari optimasi proses produksi, sedangkan minimasi limbah memulai implementasi dari upaya pengurangan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan.[7]
Produksi Bersih menekankan pada tata cara produksi yang minim bahan pencemar, limbah, minim air dan energi. Bahan pencemar atau bahan berbahaya diminimalkan dengan pemilihan bahan baku yang baik, tingkat kemurnian yang tinggi, atau bersih. Selain itu diupayakan menggunakan peralatan yang hemat air dan hemat energi. Dengan kombinasi seperti itu maka limbah yang dihasilkan akan lebih sedikit dan tingkat cemarannya juga lebih rendah. Selanjutnya limbah tersebut diolah agar memenuhi baku mutu limbah yang ditetapkan.[8]
Tren pengelolaan limbah di industri adalah menjalankan secara terintergrasi kegiatan pengurangan, segregasi dan handling limbah sehingga menekan biaya dan menghasilkan output limbah yang lebih sedikit serta minim tingkat pencemarnya. Integrasi dalam pengelolaan limbah tersebut kemudian dibuat menjadi berbagai konsep seperti: produksi bersih (cleaner production), atau minimasi limbah (waste minimization).[3]
Secara prinsip, konsep produksi bersih dan minimasi limbah mengupayakan dihasilkannya jumlah limbah yang sedikit dan tingkat cemaran yang minimum. Namun, terdapat beberapa penekanan yang berbeda dari kedua konsep tersebut yaitu: produksi bersih memulai implementasi dari optimasi proses produksi, sedangkan minimasi limbah memulai implementasi dari upaya pengurangan dan pemanfaatan limbah yang dihasilkan.[7]
Produksi Bersih menekankan pada tata cara produksi yang minim bahan pencemar, limbah, minim air dan energi. Bahan pencemar atau bahan berbahaya diminimalkan dengan pemilihan bahan baku yang baik, tingkat kemurnian yang tinggi, atau bersih. Selain itu diupayakan menggunakan peralatan yang hemat air dan hemat energi. Dengan kombinasi seperti itu maka limbah yang dihasilkan akan lebih sedikit dan tingkat cemarannya juga lebih rendah. Selanjutnya limbah tersebut diolah agar memenuhi baku mutu limbah yang ditetapkan.[8]
Strategi produksi bersih yang telah diterapkan di berbagai negara menunjukkan hasil yang lebih efektif dalam mengatasi dampak lingkungan dan juga memberikan beberapa keuntungan,antara lain:
a). Penggunaan sumberdaya alam menjadi lebih efektif dan efisien;
b). Mengurangi atau mencegah terbentuknya bahan pencemar;
c). Mencegah berpindahnya pencemaran dari satu media ke media yang lain;
d). Mengurangi terjadinya risiko terhadap kesehatan manusia dan lingkungan;
e). Mengurangi biaya penaatan hukum;
f). Terhindar dari biaya pembersihan lingkungan (clean up);
g). Produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar internasional;
h). Pendekatan pengaturan yang bersifat fleksibel dan sukarela.[8]
Minimasi limbah merupakan implementasi untuk mengurangi jumlah dan tingkat cemaran limbah yang dihasilkan dari suatu proses produksi dengan cara pengurangan, pemanfaatan dan pengolahan limbah.[9]
Pengurangan limbah dilakukan melalui peningkatan atau optimasi efisiensi alat pengolahan, optimasi sarana dan prasarana pengolahan seperti sistem perpipaan, meniadakan kebocoran, ceceran, dan terbuangnya bahan serta limbah.[9]
Pemanfaatan ditujukan pada bahan atau air yang telah digunakan dalam proses untuk digunakan kembali dalam proses yang sama atau proses lainnya. Pemanfaatan perlu dilakukan dengan pertimbangan yang cermat dan hati-hati agar tidak menimbulkan gangguan pada proses produksi atau menimbulkan pencemaran pada lingkungan.
Setelah dilakukan pengurangan dan pemanfaatan limbah, maka limbah yang dihasilkan akan sangat minimal untuk selanjutnya diolah dalam instalasi pengolahan limbah.
Pada kegiatan pra produksi dapat dilakukan pemilihan bahan baku yang baik, berkualitas dan tingkat kemunian bahannya tinggi. Saat produksi dilakukan, fungsi alat proses menjadi penting untuk menghasilkan produk dengan konsumsi air dan energi yang minimum, selain itu diupayakan mencegah adanya bahan yang tercecer dan keluar dari sistem produksi.[10]
Dari tiap tahapan proses dimungkinkan dihasilkan limbah. Untuk mempermudah pemanfaatan dan pengolahan maka limbah yang memiliki karakteristik yang berbeda dan akan menimbulkan pertambahan tingkat cemaran harus dipisahkan. Sedangkan limbah yang memiliki kesamaan karekteristik dapat digabungkan dalam satu aliran limbah. Pemanfaatan limbah dapat dilakukan pada proses produksi yang sama atau digunakan untuk proses produksi yang lain.[9]
Limbah yang tidak dapat dimanfaatkan selanjutnya diolah pada unit pengolahan limbah untuk menurunkan tingkat cemarannya sehingga sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan. Limbah yang telah memenuhi baku mutu tersebut dapat dibuang ke lingkungan. Bila memungkinkan, keluaran (output) dari instalasi pengolahan limbah dapat pula dimanfaatkan langsung atau melalui pengolahan lanjutan.[9]
Pengolahan limbah adalah upaya terakhir dalam sistem pengelolaan limbah setelah sebelumnya dilakukan optimasi proses produksi dan pengurangan serta pemanfaatan limbah. Pengolahan limbah dimaksudkan untuk menurunkan tingkat cemaran yang terdapat dalam limbah sehingga aman untuk dibuang ke lingkungan[10].
Limbah yang dikeluarkan dari setiap kegiatan akan memiliki karakteristik yang berlainan. Hal ini karena bahan baku, teknologi proses, dan peralatan yang digunakan juga berbeda. Namun akan tetap ada kemiripan karakteristik diantara limbah yang dihasilkan dari proses untuk menghasilkan produk yang sama[9].
Karakteristik utama limbah didasarkan pada jumlah atau volume limbah dan kandungan bahan pencemarnya yang terdiri dari unsur fisik, biologi, kimia dan radioaktif. Karakteristik ini akan menjadi dasar untuk menentukan proses dan alat yang digunakan untuk mengolah air limbah.[3]
Pengolahan air limbah biasanya menerapkan 3 tahapan proses yaitu pengolahan pendahuluan (pre-treatment), pengolahan utama (primary treatment), dan pengolahan akhir (post treatment). Pengolahan pendahuluan ditujukan untuk mengkondisikan alitan, beban limbah dan karakter lainnya agar sesuai untuk masuk ke pengolahan utama. Pengolahan utama adalah proses yang dipilih untuk menurunkan pencemar utama dalam air limbah. Selanjutnya pada pengolahan akhir dilakukan proses lanjutan untuk mengolah limbah agar sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan[3].
Terdapat 3 (tiga) jenis proses yang dapat dilakukan untuk mengolah air limbah yaitu: proses secara fisik, biologi dan kimia. Proses fisik dilakukan dengan cara memberikan perlakuan fisik pada air limbah seperti menyaring, mengendapkan, atau mengatur suhu proses dengan menggunakan alat screening, grit chamber, settling tank/settling pond,
Proses biologi deilakukan dengan cara memberikan perlakuan atau proses biologi terhadap air limbah seperti penguraian atau penggabungan substansi biologi dengan lumpur aktif (activated sludge), attached growth filtration, aerobic process dan an-aerobic process. Proses kimia dilakukan dengan cara membubuhkan bahan kimia atau larutan kimia pada air limbah agar dihasilkan reaksi tertentu.[9]
Untuk suatu jenis air limbah tertentu, ketiga jenis proses dan alat pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau dikombinasikan.
Pilihan mengenai teknologi pengolahan dan alat yang digunakan seharusnya dapat mempertimbangkan aspek teknis, ekonomi dan pengelolaannya harus sesuai dengan prosedur kesehatan .[9]
BAB
IV
Kesimpulan
Perkembangan ilmu teknologi (iptek) di
era globalisasi ini berkembang dengan sangat pesat dan menjadi masalah yang
belum terpecahkan saat ini dalam masalah pembuangan limbah dari sisa-sisa
industri dan pabrik-pabrik yang bergerak dalam bidang industri. Dan dalam
pengolahanya limbah perlu proses yang panjang agar dapat dibuang atau
dimanfaatkan bila dapat dimanfaatkan ..
Sebagai
contoh adalah rencana industri yang telah diberitakan luas sebagai rencana yang gagal bagi tempat pembuangan limbah
nuklir. Lokasi yang diusulkan di Yucca Mountain Nevada, Amerika Serikat.
Setelah hampir 20 tahun, melibatkan banyak penelitian dan investasi milyaran
dolar, tak satu gram pun dari bahan baku yang telah terpakai, yang saat ini
telah dikirim ke situs tersebut dari reaktor-reaktor nuklir di seluruh penjuru
Amerika Serikat. Terdapat ketidakpastian pada kecocokan geologis setempat bagi
pembuangan, investigasi yang masih berlangsung menunjukan adanya manipulasi
data ilmiah dan ancaman tindkan hukum yang dilakukan oleh pemerintah..
Saat
ini, tidak ada pilihan yang mampu menunjukkan bahwa limbah masih terisolasi
dari lingkungan selama puluhan bahkan hingga ratusan ribu tahun. Tidak ada
metode yang dapat diandalkan untuk memperingatkan generasi yang akan datang
tentang keberadaan dari pembuangan limbah nuklir.
BAB V
Referensi
4 .Djubu. Udin et.al1990/1991, Pedoman bidang
studi pembuangan tinja dan air limbah pada institusi pendidikan sanitasi/kesehatan Lingkungan.
Jakarta: Pusdiknakes Depkes RI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar